Mengapa Hari Kartini ?

Tidakkah kita pernah diam-diam bertanya :

Kartini 1903aMengapa emansipasi perempuan dikaitkan dengan hari kelahiran Kartini yang sebenarnya baru sampai pada tahap menyuarakan visinya melalui surat-menyurat dengan sahabat Belandanya dan mendirikan sebuah sekolah kecil di Rembang tak lama menjelang akhir hayatnya ?

Mengapa yang dijadikan hari nasional bukan kelahiran Tjut Nyak Dien, Tjut Nyak Meutia, atau Christina Tyahahu yang sepanjang hayat sejak remaja menegakkan senjata memimpin pasukan melawan penjajah ?

Atau mengapa bukan Laksamana Malahayati yang jelas-jelas sukses memimpin pasukan 2.000 orang dan membunuh Cornelis de Houtman dalam pertempuran 1 lawan 1 ?

Mengapa bukan pula Siti Manggopoh yang menegakkan keadilan ekonomi melawan jeratan pajak Belanda, dan meskipun masih menyusui anaknya tapi tetap sanggup menembus benteng pertahanan Belanda dan menewaskan 53 orang pasukan penjajah ?

Laksamana Malahayati aAtau mengapa bukan memilih Dewi Sartika dan Rohana Kudus yang jauh lebih banyak kiprah nyatanya di dunia pendidikan ? Dewi Sartika bukan baru pada tataran niat, tapi jelas telah mendirikan lebih dari 20 sekolah putri di berbagai kota Jawa Barat. Sementara Rohana Kudus bukan hanya mendirikan sekolah putri, tetapi juga wirausaha yang sukses dan eksportir yang handal, penyelundup senjata bagi para pejuang gerilyawan nasional, pemimpin redaksi berbagai surat kabar perjuangan, dan pendiri koperasi pertama khusus perempuan.

Bukankah mereka bukan sekedar memiliki mimpi, visi, dan cita-cita di atas kertas, tetapi sudah betul-betul mewujud menjadi langkah-langkah nyata ? Apakah karena para pahlawan perempuan Indonesia yang lain tidak memiliki sahabat Belanda dan tidak bekerja sama dengan pemerintah Belanda ?

Bukan tidak mengakui jasa Kartini. Namun, mengapa beliau yang dipilih sebagai simbol perjuangan perempuan Indonesia dan bukan yang lainnya ?

Milan, 21 April 2014