Habibie Baru Indonesia

Sekali lagi, Indonesia terbukti luar biasa kaya. Bukan saja kaya akan hasil bumi, industri kreatif, dan keindahan alam, namun negeri ini juga patut berbangga dengan lahirnya putra-putri bangsa yang menjadi barometer riset dan teknologi dunia. Salah satu nama yang kini sudah tak asing lagi adalah : Dr. Warsito Purwo Taruno.

Siapa Dr. Warsito ?

Warsito 1Dr. Warsito adalah salah satu dari “50 Tokoh” Revolusi Kaum Muda (Gatra, Edisi Khusus 2003), “10 yang Mengubah Indonesia” versi majalah Tempo (Edisi Khusus Akhir Tahun 2006) dan juga terpilih menjadi salah satu dari “100 Tokoh Kebangkitan Indonesia” Versi Majalah Gatra (Mei 2008). Tapi bukan karena berbagai penghargaan ini beliau banyak dikenal masyarakat.

Akhir-akhir ini khalayak justru mulai banyak mengenalnya sebagai penemu jaket anti kanker payudara. Temuannya ini menggegerkan dunia medis internasional. Meskipun diakui sendiri oleh penemunya masih dalam tahap riset, namun telah menimbulkan pro dan kontra di kalangan dunia medis di Indonesia. Sementara itu, rumah sakit di Arab Saudi, India, dan negara-negara lainnya sudah mulai memesan alat temuan Dr. Warsito ini. Padahal beliau justru seorang fisikawan, bukan berasal dari kalangan medis.

 

Penemu Teknologi NASA

Semula, Dr. Warsito merupakan salah seorang peneliti Indonesia yang berkarir di Shizuoka University, Jepang. Tak terlena dengan kemapanan hidup di luar negeri, beliau mendirikan Ctech Labs (Center for Tomography Research Laboratory) Edwar Technology yang bergerak di bidang teknologi tomografi. Teknologi tomografi medan listrik tiga dimensi atau electrical capacitance volume tomography (ECVT) adalah temuan Warsito yang telah dipatenkan di Amerika dan lembaga paten internasional PTO/WO tahun 2006. Sistem ECVT tersebut merupakan tugas akhir Warsito ketika menjadi mahasiswa S-1 di Shizuoka University, Jepang, pada 1991.

Pada dasarnya, teknologi ECVT ini mirip dengan CT Scan dan MRI untuk melihat apa yang terjadi di dalam tubuh manusia. Tapi, perangkat ini lebih canggih karena pasien tak perlu masuk ke dalam tabung, seperti MRI yang cuma menampilkan gambar dua dimensi. Gambar yang dihasilkan dari ECVT ini pun berbentuk tiga dimensi. Sistem ECVT ini terdiri dari sistem sensor, sistem data akuisisi dan perangkat komputer untuk kontrol, rekonstruksi data dan display. Dengan teknologi ini, pemindaian bisa dilakukan dari luar, tanpa menyentuh obyek bahkan obyek skala nano dan obyek yang bergerak dengan kecepatan tinggi bisa terlihat.

Dalam pengembangannya, teknologi ECVT sudah diakui bahkan dipakai lembaga antariksa Amerika (NASA), Exxon Mobil, BP Oil, Shell, ConocoPhillips, Dow Chemical, Mitsubishi Kimia, termasuk Departemen Energi AS (Morgan Town National Laboratory). Sedangkan di Indonesia sendiri, teknologi ini digunakan untuk pemindaian tabung gas bertekanan tinggi, seperti kendaraan berbahan bakar gas Bus Transjakarta.Oleh NASA (Lembaga Antariksa Amerika Serikat) teknologi ECVT tersebut digunakan untuk memindai obyek dielektrika pada pesawat ulang–alik selama misi ke antariksa. Teknologi tersebut memungkinkan untuk melihat tembus timbunan material di dinding luar pesawat ulang alik.

 

Sembuhkan Kanker Tanpa Kemo

ECVT juga mampu membunuh sel-sel kanker. Warsito membuat ECVT dalam berbagai bentuk unik, ada yang mirip helm, bra, dan celana, yang disesuaikan fungsinya untuk kanker otak, payudara, atau prostat. Alan-alat tersebut berbasis gelombang listrik statis dengan tenaga baterai, terbukti dapat membunuh sel kanker hingga tuntas hanya dalam waktu dua bulan.

Warsito 2Warsito telah membuktikan keampuhan alat ciptaannya kepada kakak perempuannya yang menderita kanker payudara stadium IV. Temuan Warsito itu ternyata berhasil. Dalam waktu sebulan setelah pemakaian, hasil tes laboratorium menyatakan bahwa kakaknya negatif kanker. Sebulan kemudian, sang kakak dinyatakan bersih dari sel kanker yang hampir merenggut nyawa itu.

Untuk brain cancer electro capacitive therapy, suami Rita Chaerunnisa tersebut mencoba mengenakannya kepada seorang pemuda berusia 21 tahun yang menderita penyakit kanker otak stadium lanjut. Bahan dasar yang digunakan mirip dengan breast cancer electro capacitive therapy. Namun, bentuknya disesuaikan dengan bentuk kepala sehingga menyerupai pelindung kepala.

Warsito menceritakan, awalnya pemuda tersebut mengalami lumpuh total. Dia tidak bisa bangun dari tempat tidur, bahkan tidak mampu menelan makanan. Sel kanker telah menyebar di area pangkal otak penderita itu. Namun, setelah seminggu pemakaian alat tersebut, pemuda itu sudah bisa bangun dari tempat tidur serta menggerakkan tangan dan kaki. Setelah dua bulan pemakaian, pemuda tersebut sudah dinyatakan sembuh total. “Dua bulan sudah bersih. Sel kankernya sudah hilang,” papar dia.

Testimoni kesembuhan demi kesembuhan pasian berbagai jenis kanker terus bermunculan dari mulut ke mulut. Seorang sahabat saya, Indira Abidin, bahkan mendokumentasikan kesembuhannya dari kanker payudara stadium II dalam blognya. Tak sedikit ternyata pasien kanker tahap lanjut yang bersedia menjadi bagian dari riset Dr. Warsito demi mencapai kesembuhan tanpa kemoterapi dan obat-obatan kimia yang sangat mahal dan dirasa menyakitkan proses penyembuhannya.

ECVT karya Dr. Warsito bukan hanya merupakan terobosan teknologi sensor dan pemindaian tercanggih, tetapi juga solusi penyembuhan penyakit di level sel.

Solusi sehat tanpa obat, tanpa bahan kimia.

 

Habibie Baru

Tidak hanya itu. Saat mengajar di Ohio State University pada 2001, Dr. Warsito berhasil mengembangkan tomografi kapasitansi listrik berbasis medan listrik statis. Paper yang menjelaskannya dimuat di jurnal Measurement Science and Technology. Artikel tersebut menjadi paper yang paling banyak diakses di penerbitan online oleh Institute of Physics (London).

Tanpa bantuan pemerintah, beliau terus menciptakan berbagai temuan lain. Di antaranya, temuan yang dinamakan Sona CT Scanner. Alat tersebut adalah scanner berbasis ultrasonik untuk tabung gas bertekanan tinggi. Alat tersebut merupakan pesanan PT Citra Nusa Gemilang, pemasok tabung gas bagi bus Transjakarta.

Berkat sejumlah temuannya, Warsito pernah diganjar beberapa penghargaan. Di antaranya, penghargaan rintisan teknologi industri dari Kemenperin, penghargaan inovator teknologi dari Kemenristek; hingga penghargaan Achmad Bakrie pada 2009 untuk teknologi.

Sudah waktunya anak bangsa kita menjadi pemimpin di dunia riset, ilmu, dan teknologi. Harus ada yang memulai dan membuka jalan. Jika sebagian besar kita hanya sibuk berkomentar dan perang kata-kata pra dan pasca pilpres, ternyata banyak anak bangsa lain yang jauh lebih sibuk berkarya. Tanpa banyak bicara.

Kita pernah bangga karena memiliki seorang Habibie. Kini kita bisa kembali berbangga dengan hadirnya Warsito.

Maka… berikutnya, siapa lagi ?

 

Jakarta, 1 Agustus 2014

*disarikan dari berbagai sumber

One thought on “Habibie Baru Indonesia

  • May 24, 2016 at 8:39 am
    Permalink

    Habibie menyebut bahwa pesawat ini nantinya tidak kalah hebatnya dibandingkan Boeing 777. Pesawat R80, lanjut dia, sangat tepat digunakan untuk tipe bandara sedang yang banyak ada di Indonesia.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>